The Blings of My Life

catatan-catatan Lala Purwono

Do You Remember?

Ruang kerjaku, suatu pagi. Masih pukul tujuh saat itu dan aku datang terlampau awal karena banyak pekerjaan yang sudah menunggu. Menyambar sepotong roti tawar bersemir selai srikaya di meja, memasukkan dua potong lagi di kotak makanku, lalu memacu kendaraan menuju kantor di saat orang lain mungkin masih sibuk bercakap-cakap di depan televisi sambil memegang koran paginya.

Ada deadline yang bakal menciptakan perang dunia ketiga, skala kecil-kecilan saja di kantor yang berpenghuni tak lebih dari dua puluh orang ini, kalau tak segera kupenuhi. Pagi itu, aku musti datang pagi-pagi.

Kupikir pagi itu bakal jadi pagi yang biasa saja. Pagi sibuk, seperti biasa menjelang deadline, seperti bulan-bulan sebelumnya. Tapi, pagi itu berbeda. Saat masuk ke ruang kerja, mengaduk laci, mencari sebungkus latte instan untuk peneman sarapan pagi, aku tak menyangka kalau aku masuk ke dalam time capsule yang sontak bergerak mengajakku kembali ke masa lalu. Read the rest of this entry »

1 Comment »

Someday, We’ll Know

“90 miles outside Chicago
Can’t stop driving
 I don’t know why
So many questions
 I need an answer
 Two years later
You’re still on my mind…”

 

Pernahkah kamu menyempatkan untuk bertanya kenapa kita harus bertemu? Kebaikan atau kesalahan di masa lalu yang mana yang menakdirkan kita akhirnya harus saling bertemu? Kenapa aku harus duduk di depan bar itu, memesan kopi yang ketiga, sampai kemudian kamu datang dan menyapa? Kenapa aku harus berkunjung ke kantormu lalu kita berbagi oksigen di dalam tabung lift yang sama, sampai berkali-kali? Read the rest of this entry »

2 Comments »

Kamu Memang Benar-Benar Lelaki

Aku tidak pernah meragukan kelelakianmu.

Rasa bibirmu yang tertinggal saat kita usai berciuman, lenganmu yang memeluk tubuhku hangat dan erat, suaramu yang berat dan menenangkan ketika aku sedang gelisah, adalah sekian dari begitu banyak bukti bahwa kamu memanglah seorang lelaki yang kuinginkan.

Ya, aku semakin tidak meragukan kelelakianmu saat kamu menarik diri dari janji yang pernah kau ucap tergesa di perjamuan makan malam kita, beberapa saat sebelumnya. Waktu itu, di tengah temaramnya lilin yang menyala, kamu memegang tanganku dan mengucap kata-kata itu, “Why wouldn’t we get engaged?” Pertanyaan itu terlontar, seperti bom yang muntah dari bibir meriam yang kupikir sumbunya tak menyala. Kita memang menjalani hari-hari yang penuh cinta, tapi untuk segera menyudahi petualangan gila ini, um.. sanggupkah kita? Read the rest of this entry »

1 Comment »

Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

Kalau odol lagi jatuh cinta pada barisan gigi geligi yang dicumbunya setiap pagi dan menjelang tidur, mungkin dia akan melekat kuat di dinding-dinding kekasihnya, melekat terlampau kuat meski gelontoran air mencoba meluruhkan pelukannya.

Mungkin dia akan tergesa keluar dari rumah pembungkusnya, menumpang sebuah sikat gigi, lalu meluncur masuk ke rumah kekasihnya. Untuk mencumbunya, lagi dan lagi, setiap hari.

Mungkin pula dia berharap bisa berwarna merah muda saja. Yang manis, yang terasa seperti permen karet, yang tidak bakal diusir tergesa dari rumah kekasihnya karena kehadirannya terlalu mengusik seluruh penghuninya.

Mungkin pula, meski kuyakini betul, dia bakal dengan sangat hati-hati mengusap tubuh kekasihnya, menjaganya dari sakit, karena takut kekasihnya memilih odol yang lain untuk mengobati sakitnya.

Ya,

seperti itulah, mungkin, kalau odol lagi jatuh cinta pada kekasihnya, si gigi-geligi yang selalu merindu untuk saling bercumbu, merindu untuk saling bertemu. Di setiap pagi, pun di setiap malam, mereka selalu menabung rindu yang bakal bikin ngilu bila tak segera bertemu.

Mungkin memang sepeti itu kalau odol lagi jatuh cinta.

Yang kurang lebih sama sepertiku.

Mencintaimu.

Menginginkanmu untuk membuka hari dan menutup malamku.

Menabung rindu dan ingin segera bertemu.

Menjagamu, utuh.

Sayang, aku adalah odolmu. Kamu adalah gigi-geligiku. Dulu, kamu yang memilihku menjadi odolmu. Please, jangan ganti-ganti dulu. Gimana. Mau?

 **

Kamar, Senin, 23 Januari 2012, 11.56 Malam

Sebagai penebus karena sudah nyumbang judul aneh buat #15HariNgeblogFF -nya @WangiMS dan @MomoDM

12 Comments »

Jeda

Tadinya, aku tak tahu kalau cinta adalah serupa permen karet, yang semula manis, lalu terasa hambar pada akhirnya. Kamu yang kemudian membuatku menyadari itu semua; termasuk mengajariku untuk terlalu cepat mengunyahnya. Dalam waktu sebentar saja, cinta itu tak terasa manisnya. Hambar saja, lalu kau buang secepatnya.

Seringkali, ketika sedang duduk sendiri menikmati roti tawar bersemir srikaya di sebuah pagi, aku mengingat betapa manisnya cinta yang pernah berkuasa di hati kita. Aku mengingat betapa cinta telah mengubah segalanya menjadi merah muda. Kehadiranmu serupa energi yang membakar seluruh gerak tubuhku, sehingga ketika kamu menarik dirimu menjauh, tubuhku terasa lunglai dan melumpuh. Read the rest of this entry »

1 Comment »

Pada Secangkir Kopi

Pada secangkir kopi, aku pernah bercerita tentang masa-masa ketika cinta itu pernah menggebu. Ketika sepenggal sapamu hadir menjelang pagi hariku lalu menutup hari yang sama dengan ucapan manis yang lainnya. Ketika segalanya serba merah muda. Read the rest of this entry »

2 Comments »

Masa Lalu

Ada hujan yang tumpah di balik jendela. Seolah memancing rasa yang telah lama mencoba kelam tenggelam di dasar hati. Apakah hujan terbuat dari partikel rindu, yang sontak saja bisa membuat hatiku ngilu karena mengingatmu? Sendu, mengingat masa lalu denganmu? Read the rest of this entry »

5 Comments »

#Hit32

Hai!

Dalam 6 minggu, insyaAllah umur saya bakal 32 tahun. What a great moment for me.

Untuk membuat ultah saya jadi makin istimewa, saya menantang diri sendiri untuk membuat buku yang diluncurkan persis di hari ultah saya, yang jatuh di Februari, tanggal 12 nanti.

Buku ini jelas sangat istimewa. Selain semuanya serba 32 ~ well, sesuai umur saya gitu :) ~ ada hal lain yang membuat buku kumpulan flash fiction ini begitu istimewa.

Apakah itu? Read the rest of this entry »

7 Comments »

Mungkin Kita Memang Tidak Ditakdirkan untuk Bersama

Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama.

Hanya diberi sedikit waktu untuk berebut oksigen di tempat yang sama.

Hanya diberi sedikit waktu untuk duduk di depan sofa, menikmati film-film Perancis kesukaanmu.

Hanya diberi sedikit waktu untuk berbagi berondong jagung dan sesekali jemari kita bersentuhan dan menghadirkan getar listrik yang merontokkan nyaliku. Read the rest of this entry »

8 Comments »

4 Anak Manusia — novel terbaru Lala Purwono

4 Anak Manusia; dan cinta mereka yang salah tempat

 Judul buku: 4 Anak Manusia
Jenis: Novel
Penulis: Lala Purwono
Harga: Rp. 40.000,-
Tebal: 141 Halaman
Ukuran: 11 x 17.5 cm
Dibantu cetak oleh: www.nulisbuku.com

 ”Ketika kamu melihat masa depanmu di dalam
kedua biji matanya,
Ketika kamu merasa sempurna hanya dengan berada di sisinya,
Tidakkah kamu ingin tahu apakah dia merasakan hal yang sama?” Read the rest of this entry »

No Comments »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 68 other followers