2012: (Bukan Tentang) Kiamat

Suatu kali, saya membaca sebuah buku yang tergeletak di sebuah kursi, di rumah kakak perempuan saya. Saya lupa judulnya, tapi isi ceritanya adalah mengenai prediksi suku Maya tentang hari kiamat yang konon bakal terjadi pada tanggal 21 Desember 2012. Dari buku itu saya tahu kalau dari data-data scientific memang menyebutkan perkiraan mengenai peristiwa alam seperti jilatan lidah api matahari yang akan membakar planet-planet seperti Merkurius dan Venus, dan pada tanggal 21 Desember itu tadi, jilatannya sudah mencapai ke bumi.

Doom’s day.
Judgment day.
Kiamat.

….katanya.

Tidak lama kemudian, saya mendengar kalau bakal muncul film yang berjudul 2012. Wah, tentu saja saya senang bukan kepalang karena penasaran. Saya ingin tahu, bagaimana orang-orang hebat di bidang perfilman akan meramu sebuah cheap gossip tentang kiamat dua tahun lagi itu ke dalam sebuah film yang dibintangi oleh artis-artis Hollywood yang sudah punya nama, contohnya Mr John Cussack yang berperan sebagai supir slash penulis buku Farewell Atlantis yang saya bilang one lucky bastard (karena selamat terus dari awal sampai akhir.. hehe).

Makanya, ketika saya memperoleh tiketnya tanpa perlu susah payah mengantri (padahal, sampai hari ini, antrian tiketnya mirip orang antri sembako gratis!), saya merasa sangat beruntung. Sekalipun jam tayangnya hanya satu jam setelah saya pulang kantor dan letak bioskop yang ada di ujung dunia sana -hehe, lebay-, saya tetap nekat berangkat ke sana. Hujan badai saya terjang deh demi bisa duduk di dalam sebuah bioskop yang ramai — mulai dari usia anak-anak sampai embah-embah pun ada! Dipilih, dipilih, dipilih! hehe.

Dan, voila.

Hari Jumat kemarin saya berhasil duduk di dalam bioskop, deg-degan menanti film yang kabarnya bakal ditarik dari peredaran karena dianggap sebagai film yang haram. Yah, sebelum ditarik dari peredaran, saya ingin menjadi saksi kehebatan film yang membuat banyak manusia betisnya linu-linu karena lama mengantri itu!

Dua jam lebih saya menonton film 2012.
Dua jam lebih saya menyaksikan visual effectnya yang memang luar biasa.
Dua jam lebih saya ikut hanyut dalam jalan ceritanya.
Dan setelah dua jam lebih, saya malah tertawa ketika cerita berakhir.

Kamu tahu apa yang membuat saya tertawa?

Ya.

Saya tertawa karena saya ingat dengan label haram yang ditempelkan di film tentang massive destruction on earth karena force of nature ini.

Yaelaaahh…
Haram dari maneeee?????

**
Read the rest of this entry »

Kereta yang Datang Terjadwal

Entah bagaimana suara isi hatinya ketika Dokter memvonis usianya tidak lagi panjang, tapi semua orang mendengar betapa gaduhnya ruang praktek Dokter ketika istri lelaki itu terjatuh dari kursi dan menimbulkan suara yang cukup jelas sehingga orang-orang mulai berkerumun.

Siapa yang tidak pingsan, kehilangan kesadaran, lalu terjatuh dari kursi kalau mendengar kabar usianya tidak akan lama lagi? Kalau dalam waktu tertentu, lelaki yang telah menemaninya selama bertahun-tahun dan membuat perutnya sempat membesar selama sembilan bulan lebih beberapa hari karena mengandung buah hati mereka yang kini masih berusia tiga tahun itu, akan segera meninggalkannya, anak mereka, juga semua manusia yang masih hidup dan bernafas di muka bumi, di waktu yang seolah terjadwal?

Lain dengan istrinya, si lelaki itu terlihat tenang. Ekspresi wajahnya sangat datar. Air mata tak menetes sama sekali. Ia memang sudah mengetahui resiko tentang penjemputan ajal itu beberapa tahun yang lalu, ketika bibit-bibit kankernya masih tumbuh sedikit.

Dokter mengatakan, “Sebaiknya segera dioperasi, lantas kemoterapi.”

Tapi lelaki itu berujar, “Tidak, Dokter. Saya takut. Saya nggak mau dioperasi. Biarkan saja.”

Bukan hanya takut dengan suntikan jarum, sayatan pisau bedah, jahitan benang yang tajam, atau kemoterapi yang dikabarkan akan membuat badannya panas, tapi ia takut dengan biaya-biaya yang muncul kemudian. Dia hanya seorang office boy. Memangnya dia bakal mendapatkan uang dari mana? Dari hasil sapuan kolong meja di kantor? Atau rontokan pohon uang di pelataran rumahnya?

“Saya nggak mau dioperasi, Dokter. Biarkan saja,” katanya sekali lagi, beberapa tahun yang lalu.

Beberapa tahun kemudian, dia datang ke Dokter lagi dengan keluhan yang lebih berat. Kanker-nya sudah merambat ke mana-mana. Kanker di hidungnya membuat hidungnya membengkak sebelah dan menjalar ke mata kirinya. Dokter bilang, “Kankermu sudah stadium empat. Dan kalau dibiarkan, bola matamu akan copot…”

…dan usiamu tidak akan lama lagi.

Tapi dia tetap tak sudi dioperasi. Dia dengan tenang menjawab, “Biarkan saja.”

Setenang itu dia menjalani kehidupan yang seolah berkelakar dengan keimanannya pada sang Pencipta. Sedangkan istrinya? Ah, perempuan tercintanya itu kemudian terjatuh pingsan dari kursi, lalu terbangun beberapa saat kemudian… dan meraung-raung tanpa henti.

Suaminya sedang memegang sebuah tiket kereta yang sebentar lagi, kalau tidak ada force of nature, kereta itu akan datang tepat waktu. Bagaimana mungkin seorang Istri sanggup untuk tenang, diam, dan tidak meraung-raung?

She’s gonna lose her husband. What do you expect?

** Read the rest of this entry »

You are My Sunshine!

...sunshine...

Tadinya dia adalah lelaki yang saya anggap sebagai cahaya mentari.

Betapa tidak? Kehadirannya selalu memberikan cerah di setiap mendung. Senyumnya begitu ceria, melenyapkan galau. Gelak tawanya ketika kami bercanda, jelas membuat hati saya tak lagi galau. Ya. He was like a sunshine.. Bright sunshine… sampai kemudian, dia meredupkan cahayanya dan bersembunyi di balik gumpalan awan-awan pekat. Tidak keluar dari situ. Hanya mengintip saja.

Dia berubah. Tak lagi bersinar, tak lagi menerangi. Aura tubuhnya menjadi gelap dan hampir-hampir saya tak mengenalinya. Sama sekali. Tidak ada senyum yang mengembang begitu ceria, tak ada lagi hadirnya yang menghilangkan mendung, dan suara tawanya? Entah pencuri mana yang nekat mencurinya, tapi ia tak lagi tertawa! Read the rest of this entry »

I’ve told you so!

Sering denger kata-kata seperti judul di atas, nggak?

I’ve told you so…

Atau, di dalam bahasa Indonesianya:
Aku sudah bilang apa

Atau, untuk lebih gaulnya:
Gue udah bilang apa ke elo, sih, Ciiiinnn…

Noup!

Saya sedang tidak menjadi guru Bahasa Indonesia atau guru BGGAMJS alias Bahasa Gaul Gaya Anak Muda Jaman Sekarang. Tidak, tidak. Saya sedang ingin cerita sama kamu soal betapa menyebalkannya kalau saya mendengar seseorang yang berkata, “Gue bilang apa…” atau “I’ve told you so” di telinga saya. Jujur, selain kuping saya memerah, hati saya bisa ikutan panas juga. Beugh! Menyebalkan!

Kenapa buat saya kata-kata itu menyebalkan? Bikin kuping saya merah? Hati saya panas? Read the rest of this entry »

Tuhan, Tolong!

Sudah sekian lama saya jarang berdoa.

Sholat memang selalu wajib dilaksanakan. Bacaan-bacaan setelah sholat pun terbaca dengan otomatis; doa buat orang tua, untaian doa sesudah sholat fardhu, juga berdzikir dengan seuntai tasbih. Semua itu seolah otomatis. Usai mengucapkan salam kepada kedua malaikat di bahu kiri dan kanan, doa itu terlantun begitu saja. Ya, otomatis itu tadi.

Tapi, sudah sekian lama saya tidak berdoa. Bermesra-mesraan dengan Allah, sang Maha Pengasih juga Maha Penyayang, lalu mencurahkan seluruh isi hati, seluruh gundah gulana, seluruh gelisah yang menggelora, dan menumpahkan seluruh air mata bersamaan dengan luruhnya semua cerita.

Kenapa? Read the rest of this entry »

Bitter Truth

Suatu kali, saya pernah memakai sebuah celana berbahan denim ketika (mantan) pacar mengajak saya keluar makan di dekat rumah. Celana jeans yang bentuknya pernah happening banget beberapa tahun yang lalu, yaitu sepanjang 7/8 dengan ujung yang melebar itu memang menjadi salah satu favorit saya. Longgar dan bahan denimnya tidak terlalu kaku.

Ketika hendak keluar rumah, mendadak dia bilang, “Ndut, ganti celananya, gih.”

Saya yang tengah bersiap memakai sandal pun menoleh. “Hah? Kenapa?”

“Jelek,” tukasnya.

“Ih, apanya yang jelek?” Saya masih ngeyel.

“Dibilangin jelek, ya, jelek. Udah, sana ganti.”

“Tapi celana ini enak banget, lho…”

“Terserah kamu, deh. Aku nggak mau pergi sebelum kamu ganti celananya.”

Berhubung saya malas bersitegang padahal sudah siap-siap berangkat, akhirnya saya pun nggak banyak cing-cong. Saya memilih untuk masuk kembali ke dalam kamar, menukar dengan celana jeans favorit saya yang lain yang berpotongan lurus. Ketika keluar, dia tersenyum.

“Nah, now you look much better,” kata (mantan) pacar saya itu, sambil menggamit lengan saya dan kami pun berjalan keluar.

Dalam hati saya masih nggerundel.
Segitu banget, sih, sampai saya musti ganti pakaian segala? Emangnya saya tadi keliatan jelek banget, apa?

* Read the rest of this entry »

Menikmati Pelangi

rainbow-tooSiapa yang tidak jatuh hati dengan pelangi? Fenomena alam berupa lukisan berwarna-warni di langit, yang saking indahnya sampai menginspirasi seorang pencipta lagu, sampai akhirnya lagu itu menjadi lagu wajib untuk anak-anak TK itu?

Pelangi, Pelangi…
Alangkah indahmu…
Merah, kuning, hijau, di langit yang biru…
Pelukismu agung, siapa gerangan?
Pelangi, Pelangi, ciptaan Tuhan…

Saya rasa, siapapun akan mencintai pelangi. Warna-warninya di langit tentu memberikan sensasi yang berbeda pada langit yang biru. Langit yang biasanya penuh dengan gumpalan awan saja, kini terhiasi dengan jembatan berwarna-warni, yang di komik Donal Bebek dibilang, “You can find a gold pot in the end of the rainbow…”  sehingga beberapa kali Donal berburu pundi-pundi berisi emasnya itu, walaupun seringkali gagal. Ay, seperti nggak kenal Donal aja… Jarang banget happy ending! :)

Anyhow, saya yakin, semua orang mencintai pelangi; fenomena alam yang hebat, yang menginspirasi banyak orang, mulai dari pencipta lagu, komikus, dan ya… juga seorang perempuan lajang, usia tiga puluh tahun kurang sedikit, yang sedang berada di depan laptopnya dan membiarkan jari-jemarinya menari lincah di atas keyboard…

** Read the rest of this entry »

Heart Prints Moments

Do you have a heart prints moment?

Sebuah kejadian dalam hidupmu yang tidak akan pernah bisa terlupakan sekalipun waktu tergerus begitu cepat, menggelinding begitu liar?

Sebuah kejadian dalam hidupmu yang akan kamu ingat selamanya, sampai nafasmu menghabis dan oksigen seolah enggan terpompa masuk ke dalam paru-parumu?

Sebuah kejadian yang begitu istimewanya sehingga menyentuh hatimu teramat dalam. Ya, the heart prints moments, ketika kejadian-kejadian tersebut terpatri begitu kuat di dalam hatimu.

Saya meyakini, setiap orang memiliki heart prints moments yang mungkin ketika mereka membaca tulisan ini, isi pikiran mereka melayang-layang, mencari-cari peristiwa di dalam selipan isi otak mereka lalu tersenyum sendiri atau merasakan getaran hati yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Ya, setiap orang itu termasuk kamu, yang sebentar lagi akan tahu kejadian apa saja yang saya anggap sebagai heart prints moments, peristiwa yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun di sepanjang hidup saya sampai hari ini.

Let’s start with 16 Oktober 2001, hari ketika seorang lelaki akhirnya cukup khilaf untuk menjadikan saya sebagai pacarnya. Namanya Jonathan, lelaki keturunan Italia-China-Bali, yang berusia tiga tahun lebih muda dari saya. Kenapa saya anggap sebagai heart prints moments? Tentu saja karena dia adalah pacar pertama saya! Yay!

Lalu ketika Mami saya berpulang ke asalnya, di Surga sana, tanggal 7 Juli 2002. Hari Minggu. Tak perlu dijelaskan lagi mengapa saya akan terus teringat dengan peristiwa itu, kan? Karena kamu pasti tahu, you will never ever forget the day your mother passed away, hari ketika kamu kehilangan seluruh daya untuk bernafas, dan hari ketika kamu baru benar-benar menyadari bahwa arti dari kata ‘meninggal’ adalah tidak akan pernah kembali lagi. Teknologi secanggih apapun tidak akan menjembatani dua dunia itu. Yeah, the day my Mom passed away is the day that I will never ever forget for the rest of my life.

Berikutnya, hari ketika keponakan pertama saya, Eugenea Chiquita Zahrani Assyarif alias Kiki, terlahir dari perut kakak saya, Mbak Piet. It was January 21, 2003, hanya berjarak beberapa bulan saja dari hari saat langit Surabaya mendung karena Mami berpulang. The day she grabbed my finger, the very first day I held my niece and kissed her forehead, the day I jumped off joy because I finally had a niece… adalah hari yang sangat menyentuh. Sampai sekarang, perasaan hangat itu masih menghangati hati saya.

Hmm… what’s next?

The first kiss?
The first break up?
The day I graduated from university?
The day I received my paycheck?

Banyak sekali heart prints moments dalam hidup saya, termasuk bertemu pertama kali dengan Om NH18, sis Imelda, dan Abang Hery Azwan, mentor-mentor saya di dunia blog, tanggal 1 Agustus 2008.

Dan tentu saja, above all, yang paling terekam dalam ingatan saya, yang tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah kehidupan saya, yang sumpah mati saya ingin merasakannya kembali adalah…

This special day. 14 November 2008, hari peluncuran buku saya, The Blings of My Life, di Indonesian Book Fair, JCC. Hari di mana saya bisa merasa bangga dengan diri saya sendiri, that I could prove to my self that I meant something for someone else.

And what makes it even special is…
Karena di hari yang sama…
Hati saya tersentuh luar biasa…
Oleh seorang sahabat…
…bernama Lin.

*** Read the rest of this entry »

Manusia-Manusia Istimewa

Dua malam yang lalu saya belanja keperluan bulanan di Indomart dekat rumah. Pulang kantor, saya minta Bro untuk menepi sebentar di toko tersebut lalu melenggang ke dalam dengan high heels dan menenteng keranjang belanja berwarna merah. Dari lorong ke lorong, saya meneliti barang-barang yang akan saya beli. Mulai dari body cologne sampai pembalut. Beberapa barang mulai berpindah masuk ke dalam keranjang saya, ketika pintu Indomart terbuka dan saya melihat dua bocah lelaki dan perempuan berlarian masuk ke dalam dengan berisik.

I couldn’t help to watch them.

Bagaimana tidak? Suasana Indomart yang tadinya sepi, mendadak menjadi gaduh sejak dua bocah yang usianya kurang dari delapan tahun itu berlarian masuk ke dalam, seperti keran air yang dibuka dengan sangat kencang; airnya melesak, berhamburan.

Saya menoleh. Melihat kedua anak itu berlarian dengan riang gembira, seolah Indomart adalah lahan bermain mereka berdua. Mereka berlarian dari lorong satu ke lorong yang lainnya, diikuti dengan seorang asisten rumah tangga yang kemudian berusaha sekuat tenaga untuk menyuruh mereka tenang.

Ketika salah satu bocah itu mendekati saya, jantung saya seolah mendadak berhenti berdenyut. Astaga, apa itu yang saya lihat? Apakah saya salah melihat? Ataukah minus kacamata saya sudah benar-benar melewati angka seperempat, sehingga saya perlu mengucek mata saya dulu untuk memastikan kalau yang saya lihat adalah… um… sebelah kaki yang palsu? Read the rest of this entry »

Cantik!

Lin

Lin

Kalau kamu melihat foto di samping kiri ini, apakah kamu sependapat dengan saya kalau perempuan di dalam foto ini adalah seorang perempuan yang berwajah cantik? Maybe she isn’t as pretty as Julia Roberts or Angelina Jolie, but… look at her. Dia cantik, kan?

Hari Sabtu kemarin, saya berjuang untuk mengatakan fakta ini padanya, pada seorang perempuan yang juga sahabat saya ini.

You’re beautiful, Lin. I know, idung lo emang ilang entah kemana, tapi elo tetep cantik!” kata saya saat makan siang, dua hari yang lalu.

Dia hanya tertawa, tapi saya tahu, pandangannya kosong. Entah, apa yang sedang bergumul di dalam pikirannya. Dia seolah sedang memikirkan sesuatu. Read the rest of this entry »